Monday, 5 May 2014

Resensi Filsafat Islam (6)


Nama               : Eva Fauziah
NIM                : 1112051100034
Jurusan            : Jurnalistik 4/
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

AL-FARABI

·         MASA HIDUPNYA

Abu Nasr al-Farabi lahir pada tahun 258 H/ 870 M dan meninggal pada tahun 339 H/ 950 M. Berbeda dengan beberapa sarjana muslim lainnya, al-Farabi tidak menuliskan riwayat hidupnya, dan tak seorang pun di antara para pengikutnya merekam kehidupannya. Sebagai pembangun agung sistem filsafat, ia telah membaktikan diri untuk berpikir dan merenung, menjauh dari kegiatan politik, gangguan dan kekisruhan masyarakat. Kehidupan al-Farabi dapat dibagi menjadi dua periode, Pertama, bermula sejak ia lahir sampai ia berusia lima puluh tahun. Informasi yang didapat tentang periode ini adalah bahwa ia lahir di Wasij, sebuah dusun di dekat dengan Farab, di Transoxiana, pada tahun 258 H/ 870 M. Ia lahir sebagai orang Turki, ayahnya seorang jenderal dan ia sendiri bekerja sebagai hakim untuk beberapa lama.

Pendidikan dasarnya adalah keagamaan dan bahasa, ia mempelajari fiqh, Hadis, dan tafsir al-Quran. Ia mempelajari bahasa Arab, bahasa Turki, dan Parsi. Telah dinyatakan oleh ibn Khalikan bahwa al-Farabi menguasai tujuh puluh bahasa, namun sangat di ragukan bahwa al-Farabi menguasai bahasa lain. Dari penafsiran al-Farabi tentang kata safsathah (sophistry), tampak jelas bahwa al-Farabi tidak mengerti bahasa Yunani. Ia tidak mengabaikan manfaat dari studi rasional semasa hidupnya seperti matematika dan filsafat. Ia juga tidak banyak memperhatikan ilmu kedokteran. Ia lebih tertarik dengan studi rasional yang kemudian membawanya mengembara menuntut ilmu hingga meninggalkan kota kelahirannya.

Periode kedua kehidupan al-Farabi adalah periode usia tua dan kematangan penuh. Bahghdad adalah kota pertama yang dikunjunginya sebagai pusat belajar yang terkemuka, disana ia berjumpa dengan sarjana dari berbagai bidang, diantaranya para filosof dan penerjemah. Ia tertarik untuk mempelajari logika. Ia belajar logika kepada ibn Yunus untuk beberapa lama. Karena ia dapat mengungguli gurunya, ia memperoleh sebutan “Guru Kedua” atas pencapainnya yang gemilang dibidang ini. Selama dua puluh tahun al-Farabi bermukim di Baghdad dan kemudian ia tertarik oleh pusat kebudayaan lain di Aleppo. Disana temapt orang-orang brilian dan para sarjana, Istana Saif al-Daulah adalah tempat al-Farabi tinggal bersama dengan para penyair, ahli bahasa, filosof dan sarjana-sarjana kenamaan lainnya. Al-Farabi tinggal di Syria hingga wafat pada tahun 339 H/ 950 M. Ia sempat mengunjungi Mesir menjelang akhir hayatnya.

·         KARYA-KARYANYA
Tercatat ada tujuh puluh buah tulisan al-Farabi. Karya-karyanya tersebut dibagi menjadi dua, satu diantaranya mengenai logika dan yang lainnya mengenai bidang lain. Karya-karya tentang logika menyangkut bagian yang berbeda dari Organon-nya Aristoteles, baik yang berbentuk komentar ataupun ulasan panjang.
Karya-karya kelompok kedua menyangkut berbagai cabang pengetahuan filsafat, fisika, matematika, metafisika, etika dan politik.Karya-karya al-Farabi tersebar luas di Timur pada abad ke-4 dan 5 H/ ke-10 dan 11 M, dan mungkin mencapai Barat ketika sarjana-sarjana Andalusia menjadi pengikut al-Farabi. Beberapa tulisannya telah pula diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dan Latin, dan telah memengaruhi sarjana Yahudi dan Kristen.

·         FILSAFATNYA
Filsafat al-Farabi mempunyai corak dan tujuan yang berbeda. Ia mengambil ajaran-ajaran para filosof terdahulu, membangun kembali dalam bentuk yang sesuai dengan lingkup kebudayaan, dan menyusunnya sedemikian sistematis dan selaras. Al-Farabi adalah seorang yang logis baik dalam pemikiran, pernyataan, argumentasi, diskusi, keterangan dan penalarannya.

Filsafatnya mungkin bertumpu pada beberapa perkiraan yang keliru dan mungkin juga berisi beberapa hipotesis yang telah ditolak oleh ilmu pengetahuan modern, tetapi ia mempunyai peranan penting dan pengaruh yang besar di bidang pemikiran masa-masa sesudahnya.

No comments:

Post a Comment