Saturday, 19 April 2014

Resensi Filsafat Islam (5)

MUHAMMAD IBN ZAKARIA AL-RAZI

Nama               : Eva Fauziah
NIM                : 1112051100034
Jurusan            : Jurnalistik 4/
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

MUHAMMAD IBN ZAKARIA AL-RAZI
·         Masa hidupnya

Muhammad Ibn Zakaria Al-Razi lahir di Rayy, tanggal 1 Sya’ban, tahun 251 H/865 M. Pada masa mudahnya ia menjadi tukang intan, penukar uang, atau sebagai pemain kecapi. Ia sangat rajin belajar dan bekerja di siang dan malam hari. Gurunya ‘Ali Ibn Rabban al-Thabari adalah seorang dokter dan filosof yang lahir di Merv pada tahun 192 H/ 808 M dan meninggal beberapa tahun setelah 240 H/855 M. Ia belajar ilmu kedokteran kepada Ibn Rabban al-Thabari dan kemungkinan juga ilmu filsafat. Di kota kelahirannya Al-Razi terkenal sebagai dokter. Karena itu ia memimpin rumah sakit di Rayy ketika Mansur ibn Ishaq Ibn Ahmad  ibn Asad menjadi gubernur Rayy, dari tahun 290-296 H/902-908 M atas nama kemenakannya Ahmad Ibn Ismail Ibn Ahmad sebagai pemerintah Samaniah kedua.

·         Karya-karyanya
Buku-buku al-Razi sangat banyak yang terdiri dari 118 buku, 19 surat, 4 buku, 6 surat dan 1 makalah. Jumlah seluruhnya 148 buah. Naskah buku al – Razi tentang buku – buku filsafat diantaranya:
1.      Al – Tibb al – Ruhani
2.      Al – Shirat al – Falsafiyyah
3.      Amarat Iqbal al – Daulah
4.      Kitab al – Ladzdzah
5.      Kitab al – Ilm al – ilahi
6.      Maqalah fi ma ba’d al – Tabi’ah
            Al – Razi adalah seorang rasionalis murni. Di bidang kedokteran, studi klinis yang dilakukannya telah menghasilkan metode yang kuat tentang penemuan yang berpijak pada observasi dan eksperimen.
·         Metafisika
Banyak keraguan tentang keaslian Maqalah li Abi Bakr Muhammad Ibn Zakariya al – Razi fi ma ba’d al – Tabiah karena isinya tidak menyetujui sepenuhnya ajaran al – Razi. Hal ini sebagaimana dugaan Pines, mungkin dikarenakan mengikuti periode lain perkembangan pemikiran al – Razi. Berikut pokok – pokok karangan  yaitu alam, janin dan kekekalan gerak. Ia menolak mereka yang berpendapat bahwa alam adalah prinsip gerak. Filsafat – Razi terutama diwarna oleh doktrinnya tentang Lima Kekekalan :
·         Tuhan
Ø  Kebijakan Tuhan itu sempurna.
Ø  Ketidaksengajaan tidak dapat disifatkan kepada – Nya.
Ø  Kehidupan datang dari – Nya sebagaimana sinar datang dari matahari.

·         Ruh
Keabadian lain ini adalah ruh yang hidup, tetapi Ia bodoh. Materi juga kekal. Karena kebodohannya, ruh mencintai materi dan membuat bentuk darinya untuk memperoleh  kebahagiaan bendawi. Tetapi materi menolak sehingga Tuhan campur tangan untuk membantu ruh. Dengan bantuan ini, Tuhan membuat dunia dan menciptakan di dalamnya bentuk – bentuk yang kuat, yang di dalamnya ruh dapat memperoleh kebahagiaan jasmani.
·         Universal
·         Materi
·         Universal
·         Materi
·         Ruang
Al – Razi membedakan ruang menjadi dua macam : ruang universal atau mutlak dan ruang tertentu atau relatif. Yang pertama tak terbatas dan tidak bergantung kepada dunia dan segala yang ada di dalamnya.
·         Waktu
Al – Razi membagi waktu menjadi dua macam yaitu waktu mutlak dan waktu terbatas. Waktu mutlak adalah keberlangsungan. Ia kekal dan bergerak. Sedang waktu terbatas adalah gerak lingkungan – lingkungan, matahari dan bintang – gemintang.
·         Teologi
Al – Razi membantah kenabian dengan alasan – alasan berikut:
1.      Akal sudah memadai untuk membedakan antara yang baik dan jahat, yang berguna an yang tak berguna.
2.      Tiada pembenaran bagi pengistimewaan beberapa orang untuk membimbing semua orang, sebab semua orang lahir dengan kecerdasan  yang sama, perbedaannya bukanlah karena pembawaan alamiah, tetapi karena pengembangan dan pendidikan.
3.      Para nabi saling bertentangan. Bila mereka berbicara atas nama satu Tuhan yang sama, mengapa terdapat pertentangan.

·         Filsafat Moral
Filsafat moral al – Razi terdapat hanya dalam karyanya al – Tibb al – Ruhani dan al – Shirat al – Falsafiyyah. Karya yang kedua ini merupakan pembenar perihidupnya dari sudut pandang filsafat, sebab Ia dicela oleh beberapa orang lantaran Ia tidak sebagaimana gurunya. Ia berpendapat bahwa seorang filosof harus moderat, tidak terlalu meyendiri, tidak terlalu memperturutkan hawa nafsu. Ada dua batas dalam hidup ini yaitu batas tertinggi dan batas terendah. Batas tertinggi adalah adalah batas yang tidak boleh dilampaui para filosof. Sedangkan batas terendah adalah memakan sesuatu yang tidak membahayakan atau menyebabkan sakit dan memakai pakaian yang cukup untuk melindungi kulitnya dsb. 

No comments:

Post a Comment