MUHAMMAD IBN ZAKARIA
AL-RAZI
Nama : Eva Fauziah
NIM : 1112051100034
Jurusan : Jurnalistik 4/b
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
MUHAMMAD
IBN ZAKARIA AL-RAZI
·
Masa hidupnya
Muhammad
Ibn Zakaria Al-Razi lahir di Rayy, tanggal 1 Sya’ban, tahun 251 H/865 M. Pada
masa mudahnya ia menjadi tukang intan, penukar uang, atau sebagai pemain
kecapi. Ia sangat rajin belajar dan bekerja di siang dan malam hari. Gurunya
‘Ali Ibn Rabban al-Thabari adalah seorang dokter dan filosof yang lahir di Merv
pada tahun 192 H/ 808 M dan meninggal beberapa tahun setelah 240 H/855 M. Ia
belajar ilmu kedokteran kepada Ibn Rabban al-Thabari dan kemungkinan juga ilmu
filsafat. Di kota kelahirannya Al-Razi terkenal sebagai dokter. Karena itu ia
memimpin rumah sakit di Rayy ketika Mansur ibn Ishaq Ibn Ahmad ibn Asad menjadi gubernur Rayy, dari tahun
290-296 H/902-908 M atas nama kemenakannya Ahmad Ibn Ismail Ibn Ahmad sebagai
pemerintah Samaniah kedua.
·
Karya-karyanya
Buku-buku
al-Razi sangat banyak yang terdiri dari 118 buku, 19 surat, 4 buku, 6 surat dan
1 makalah. Jumlah seluruhnya 148 buah. Naskah buku al – Razi tentang buku –
buku filsafat diantaranya:
1.
Al – Tibb al – Ruhani
2.
Al – Shirat al – Falsafiyyah
3.
Amarat Iqbal al – Daulah
4.
Kitab al – Ladzdzah
5.
Kitab al – Ilm al – ilahi
6.
Maqalah fi ma ba’d al – Tabi’ah
Al
– Razi adalah seorang rasionalis murni. Di bidang kedokteran, studi klinis yang
dilakukannya telah menghasilkan metode yang kuat tentang penemuan yang berpijak
pada observasi dan eksperimen.
·
Metafisika
Banyak
keraguan tentang keaslian Maqalah li Abi Bakr Muhammad Ibn Zakariya al –
Razi fi ma ba’d al – Tabiah karena isinya tidak menyetujui sepenuhnya ajaran
al – Razi. Hal ini sebagaimana dugaan Pines, mungkin dikarenakan mengikuti
periode lain perkembangan pemikiran al – Razi. Berikut pokok – pokok
karangan yaitu alam, janin dan kekekalan
gerak. Ia menolak mereka yang berpendapat bahwa alam adalah prinsip gerak. Filsafat
– Razi terutama diwarna oleh doktrinnya tentang Lima Kekekalan :
·
Tuhan
Ø Kebijakan
Tuhan itu sempurna.
Ø Ketidaksengajaan
tidak dapat disifatkan kepada – Nya.
Ø Kehidupan
datang dari – Nya sebagaimana sinar datang dari matahari.
·
Ruh
Keabadian
lain ini adalah ruh yang hidup, tetapi Ia bodoh. Materi juga kekal. Karena
kebodohannya, ruh mencintai materi dan membuat bentuk darinya untuk
memperoleh kebahagiaan bendawi. Tetapi
materi menolak sehingga Tuhan campur tangan untuk membantu ruh. Dengan bantuan
ini, Tuhan membuat dunia dan menciptakan di dalamnya bentuk – bentuk yang kuat,
yang di dalamnya ruh dapat memperoleh kebahagiaan jasmani.
·
Universal
·
Materi
·
Universal
·
Materi
·
Ruang
Al
– Razi membedakan ruang menjadi dua macam : ruang universal atau mutlak dan
ruang tertentu atau relatif. Yang pertama tak terbatas dan tidak bergantung
kepada dunia dan segala yang ada di dalamnya.
·
Waktu
Al
– Razi membagi waktu menjadi dua macam yaitu waktu mutlak dan waktu terbatas.
Waktu mutlak adalah keberlangsungan. Ia kekal dan bergerak. Sedang waktu
terbatas adalah gerak lingkungan – lingkungan, matahari dan bintang –
gemintang.
·
Teologi
Al – Razi membantah
kenabian dengan alasan – alasan berikut:
1.
Akal sudah memadai untuk membedakan
antara yang baik dan jahat, yang berguna an yang tak berguna.
2.
Tiada pembenaran bagi pengistimewaan
beberapa orang untuk membimbing semua orang, sebab semua orang lahir dengan
kecerdasan yang sama, perbedaannya
bukanlah karena pembawaan alamiah, tetapi karena pengembangan dan pendidikan.
3.
Para nabi saling bertentangan. Bila
mereka berbicara atas nama satu Tuhan yang sama, mengapa terdapat pertentangan.
·
Filsafat Moral
Filsafat
moral al – Razi terdapat hanya dalam karyanya al – Tibb al – Ruhani dan al
– Shirat al – Falsafiyyah. Karya yang kedua ini merupakan pembenar
perihidupnya dari sudut pandang filsafat, sebab Ia dicela oleh beberapa orang
lantaran Ia tidak sebagaimana gurunya. Ia berpendapat bahwa seorang filosof
harus moderat, tidak terlalu meyendiri, tidak terlalu memperturutkan hawa
nafsu. Ada dua batas dalam hidup ini yaitu batas tertinggi dan batas terendah.
Batas tertinggi adalah adalah batas yang tidak boleh dilampaui para filosof.
Sedangkan batas terendah adalah memakan sesuatu yang tidak membahayakan atau
menyebabkan sakit dan memakai pakaian yang cukup untuk melindungi kulitnya dsb.
No comments:
Post a Comment