Monday, 26 May 2014

Resensi Filsafat Islam 10


Nama               : Eva Fauziah
NIM                : 1112051100034
Jurusan            : Jurnalistik 4/
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

IBNU TUFAIL 

A.                Kehidupan dan karyanya
Abu bakr Muhammad ibn Abdal-Malik ibn Muhmmad  ibn Muhammad ibn Tufail (latin,abubacer), pemuka besar peratama pemikiran filosofi muwahid dari Spanyol,lahir pada dekade pertama abad ke-6 H / ke-12 M di Guadix, di provinsi Granada. Ia termasuk dalam keluarga suku Arab terkmuka,Qais. Ia meningal pada tahun 580 H/1884 M di Maroko.  Ibnu Tufail adalah seorang dokter, filosof, ahli matematika dan penyair yang sangat terkenal dari Muwahhid Spanyol, tapi sayangnya hanya sedikit sekali karya-karyanya yang dikenal orang. Al-Bitruji (muridnya) dan ibn Rusydi percaya bahwa dia memiliki “gagasan-gagasan astronomi asli” Miguel casiri menyebutkan dua karya yang masa ada : Risalah Hayy ibn Yaqzan dan Asra al-hikmah al-Mashriqiyyah.
B. Hayy Ibn Yaqzan
Hayy ibn Yaqzan merupakan seatu ciptaan unik pemikiran filosofis ibn Tufail. Bagaimanapun gagasan ini tidak seluruhnya baru . Sebelumnya ibn Sina telah menulis suatu kisah dengan judul serupa. Dalam karya ibn Sina, tujuan utamanya yaitu menunjukan bagaimana penderitaan seseorang mendatangkan karunia tuhan dan menyebapkan terjadinya kemurnian jiwa. Sedang tujuan ibnu Tufail adalah mendramatisasi perkembangan nalar teoritis dari persepsi rasa yang masih kasar menjadi visi indah tentang tuhan. 
tujuan risalah
Menurut Dr. Muhammad Ghallab, risalah itu pada dasarnya bertujuan menunjukan kemampuan individu manusia untuk hidup sendiri, dengan hanya memanfaatkan sumber-sumber alam saja tanpa bantuan masyarakat , dan berusaha memperoleh kebenaran sejati, asalkan dia memiliki kecerdasan untuk itu.
c. Doktrin-doktrin
      Dunia
     Dia mengemukakan bahwa gagasan mengenai kemaujudan sebelum ketidak mewujudan tidak dapat dipahami tanpa anggapan bahwa waktu itu telah ada sebelum dunia ada; tapi waktu itu sendiri merupakan suatu kejadian takterpisahkan dari dunia, dan karena itu kemawujudannya mendahului kemawujudan dunia dikesampingkan. Lagi, segala yang tercipta pasti membutuhkan Pencipta
      Tuhan
Penciptaan dunia yang berlangsung lambat laun itu mensyaratkan adanya satu Pencipta, sebab dunia tak bisa mawujud dengan sendirinya. Juga, sang Pencipta mesti bersifat immaterial, sebab materi yang merupakan suatu kejadian dunia di ciptakan oleh satu Pencipta.
      Kosmologi cahaya
Hanya ada satu cahaya, meskipun banyak yang memantul.

      Epistemologi
Jiwa seperti tabularasa, tetapi imaji tentang Tuhan sudah ada sebelumnya. Dan memulainya dengan pikiran jernih tanpa prasangka apapun. Ada pengetahuan di luar panca indera, ada pengetahuan lain yang datang dari Tuhan di luar mata untuk melihat, telinga untuk mendengar dan jiwa untuk merasa.
      Etika
Kebaikan tertinggi, adanya penyatuan dengan Tuhan (ikhlas dan nothing to lose) bukan hanya kebahagiaan duniawi. Melaksanakan kewajiban untuk diri sendiri, tetapi yang paling tinggi melaksanakan kewajiban utuk Tuhan.
      Filsafat dan agama
Filsafat hanya diperuntukan untuk sebagian manusia karena hanya
d. Pengaruh
Di antara karya ibn Tufail, hanya Hayy ibn Yaqzan saja lah yang masih ada sekarag. Karya itu merupakan suatu roman filsafat pendek, tapi pengaruhnya terhadap generasi berikutnya di Barat begitu besar sehingga karya tersebut dianggap sebagai salah satu buku paling mengagumkan dari Zaman Pertengahan. Risalah tersebut telah di terjemah kan kedalam bahasa Ibrani, Latin, Inggris,Belanda, Perancis,Spanyol, Jerman,dan Rusia   Di antara murid-murid ibn Tufail abu Ishak al-Bitruji dan abu al-Walid ibn Rusyid adalah yang paling menonjol. Dia berada di barisan depan dalam bidang astronomi lewat al-Bitruji. Dalam bidang filsafat dan pengobatan dia menguasai arena lewat ibn Rusydi.




Monday, 12 May 2014

Resensi Filsafat Islam (8 dan 9)

Nama               : Eva Fauziah
NIM                : 1112051100034
Jurusan            : Jurnalistik 4/
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Ibnu Sina

Ibnu Sina (370/980-428/1037), adalah satu-satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci. Ia menunjukan jiwa yang jenius dalam menemukan metode-metode dan alasan-alasan yang diperlukan untuk merumuskan kembali pemikiran rasional murni dan tradisi intelektual Hellenisme yang ia warisi dan lebih jauh lagi dalam sistem keagamaan Islam. Karakteristik paling dasar pemikiran Ibnu Sina adalah pencapaian definisi dengan metode pemisahan dan pembedaan konsep-konsep secara tegas dan keras. Hal ini memberikan kehalusan yang luar biasa terhadap pemikiran-pemikirannya.

·         Doktrin tentang wujud
Menurut Ibnu Sina, esensi mewujud dalam pikiran Tuhan (dan dalam pikiran-pikiran intelegensi-intelegensi aktif) sebelum hal-hal itu ada itu maujud di dalam dunia lahiriah, dan mereka juga ada dalam pikiran kita setelah mereka itu mewujud. Keberadaan adalah suatu yang ditambah, bukan pada obyek-obyek yang ada, tetapi pada esensi.

·         Hubungan jiwa raga
Ibnu Sina menegaskan, tentang keabadian jiwa itu didasarkan atas pandangan bahwa jiwa merupakan suatu subtansi dan bukan suatu bentuk tubuh. Namun juga, hubungan antara jiwa dan tubuh demikian erat sehingga hal ini bisa mempengaruhi akal. Sebenarnya, kalau jiwa cukup kuat, jiwa dapat menyembuhkan dan menyakitkan badan lain tanpa sarana apapun, karena secara ekslusif, jiwa menyatu dengan tubuh.

·         Teori Pengetahuan
Ibnu Sina memberikan seluruh pengetahuan sebagai jenis abstraksi untuk memahami bentuk suatu yang diketahui. Penekanan utamanya yang sangat mungkin diuraikan olehnya sendiri adalah pada tingkat-tingkat daya abstraksi ini dalam pemahaman yang berbeda-beda. Tetapi kunci utama doktrin Ibnu Sina tentang persepsi ialah pembedaan antara persepsi internal dan eksternal. Persepsi internal ialah kerja panca indera eksternal. Ibnu sina juga berpendapat bahwa persepsi dan imajinasi hanya menyatakan kepada kita tentang kualitas perceptual dari sesuatu, ukuran, warna, bentuk dsb.

Ajaran tentang kenabian:

Pentingnya gejala kenabian danwahyu ilahi merupakan sesuatu yang oleh ibnu sina terlah diusahakan untuk dibangun dalam empat tingkatan : intelektual, imajinatif, kejaiban dan sosiopolitis.

Tuhan di dunia
Tuhan adalah kemaujudan yang mesti. Kemaujudan yang mesti itu jumlahnya harus satu. Nyatanya, walaupun di dalam kemaujudan ini tak boleh terdapat kelipatan sifat-sifatNya, tetapi tuhan memiliki esensi lain. Tak ada atribut lain kecuali bahwa Dia itu ada dan mesti ada, ini di nyatakan oleh Ibnu Sina dengan mengatakan bahwa esensi Tuhan identik dengan keberadannya yang mesti itu. Karena tuhan tidak beresensi, maka dia mutlak sederhana dan tak dapat didefinisikan.

Pengaruhnya di Timur dan Barat
Di timur , sesungguhnya sistem Ibnu Sina telah mendominasi tradisi falsafah muslim sampai zaman modern ketika Ia disejajarkan dengan beberapa orang pemikir barat oleh mereka yang terdidik di universitas-universitas modern.  Karya-karya Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam bahasa Latin di Spanyol pada pertengahan abad ke 6 H/12 M.

Ibnu Bajjah

Abu Bakr Muhammad ibn Yahya al-Sha’igh, yang dikenal sebagai ibn Bajjah atau Avempace (meninggal tahun 533 H/ 1138M), berasal dari keluarga al-Tujib, karenanya ia juga dikenal sebagai al-Tujibi. Ibn Bajjah lahir di Saragossa menjelang akhir abad ke-5 H/11 M, dan besar di sana hingga merampungkan jenjang akademisnya dengan menjadi sarjana bahasa dan sastra Arab yang ulung serta menguasai dua belas maam ilmu pengetahuan.
Ketika masa sulit dan kacau dalam sejarah Spanyol dan Afrika barat-laut (Masa Gubernur Abu Bakr Yahya ibn Yusuf ibn Tasyifin). Para gubernur kota dan daerah menyatakan kemerdekaan mereka. Mereka yang bermusuhan saling menuduh berbuat bid’ah demi meraih keunggulan dan simpati rakyat. Ibnu Bajjah memiliki banyak musuh dan mereka mencap sebagai ahli bid’ah dan mencoba membunuhnya. Ibn Zuhr, dokter termahsysur pada saat itu berhasil membunuhnya dengan racun pada bulan Ramadhan tahun 533 H/1138 M di Fez.

Para pendahulunya
Di antara para pendahulu ibn Bajjah, ibn Hazm oantas diberi perhatian khusus. Ibn Hazm berada di tempat yang sangat tinggi dalam teologi dan ilmu-ilmu keagamaan lainnya. Karyanya kitab al-Fashl fi al-Milal Wan-Nihal adalah unik, yang di dalamnya dia menulis pernyataan-pernyataan kebenaran dan doktrin-doktrin Kristen, Yahudi, dan yang lain-lainnya tanpa dalam menyatakan prasangka apapun.

Tokoh-tokoh sezamannya
Malik ibn Wuhaib dari Seville :
Cara-cara penelitian dalam ilmu-ilmu kuno hanya diketahui oleh ibn Bajjah dan Malik. Malik mempelajari ilmu-ilmu keagamaan dan menjadi salah seorang tokoh dalam bidang itu.
Al-Amir al-Muqtadir ibn Hud :
Ia adalah raja yang memimpin Saragossa (438 H/ 1046 M – 474 H/ 1081 M). Ia ahli dalam bidang matematika dan filsafat.
Karya-karyanya
1.                  The Bodleian MS., Arabic Pococke, No. 206, berisi 222 folio. Ini kekurangan risalah-risalah mengenai ilmu pengobatan dan Risalat al-Wada’.
2.                  The Berlin MS. No. 5060.
3.                  The Esurial MS. No. 612. Hanya berisi risalah-risalah yang ditulis oleh ibn Bajjah sebagai penjelasan atas risalah-risalah al-Farabi dalam masalah logika.
4.                  The Khediviah MS. Akhlaq No. 290.
5.                  Brockelmann menyatakan bahwa The Berlin Library memiliki sebuah syair pujian karya ibn Bajjah berjudul Tardiyyah.
6.                  Beberapa karya yang disuting oleh Asia Palacios dengan terjemahan bahasa Spanyol dan catatan-catatan yang diperlukan.
7.                  Dua karya yang disunting oleh Dr. Shagrir Hasan al-Ma’sumi.

Filsafatnya
Ibn Bajjah menyandarkan filsafat dan logikanya pada karya-karya al-Farabi, tapi jelas bahwa ia telah memberikan sejumlah besar tambahan dalam karya-karya itu dan ia menggunakan metode penelitian filsafat yang benar-benar lain. Ia berurusan dengan segala masalah hanya berdasarkan nalar semata. Ibn Bajjah menulis uraian-uraian sendiri atas karya-karya Aristoteles. Ibn Bajjah mendasarkan metafisika dan psikologinya pada fisika.

Materi dan bentuk
Menurut Ibn Bajjah materi dapat bereksistensi tanpa harus ada bentuk. Jika materi berbentuk, maka ia akan terbagi menjadi materi “materi” dan “bentuk” dan begitu seterusnya. “Bentuk Pertama” merupakan suatu bentuk abstrak yang bereksistensi dalam materi yang dikatakan sebagai tidak mempunyai bentuk.
Bentuk suatu tubuh memiliki tiga tingkatan: (1) bentuk jiwa umum atau bentuk intelektual (2) bentuk kejiwaan khusus (3) bentuk fisik. Bentuk-bentuk yang berkaitan dengan aktif dinamakan bentuk-bentuk kejiwaan umum, dan bentuk-bentuk yang berkaitan dengan akal sehat dinamakan bentuk-bentuk kejiwaan khusus.

Psikologi
Setiap makhluk fana harus melaksanakan fungsi khusus demi kedudukannya di alam raya ini, maka yang nutrisi itu mempunya dua tujuan, yaitu pertumbuhan dan reproduksi. Persepsi psikis ada dua macam: sensasi dan imajinasi. Sensasi merupakan suatu kapasitas tubuh yang diaktifkan oleh yang terasa. Pada taraf akhir imajinasi, muncullah akal, dan unsur rasional pun mulai berfungsi.

Akal dan pengetahuan
Menurut ibn Bajjah, akal merupakan bagian terpenting manusia. pengetahuan yang benar dapat diperoleh lewat akal yang merupakan satu-satunya sarana yang melaluinya kita mampu mencapai kemakmuran dan membangun kepribadian. Pengetahuan manusia berarti bahwa dia melihat yang bereksistensi dan eksistensi sempurna mereka dalam akalnya lewat wawasan ruhnya yang merupakan rahmat dari Tuhan.

Tuhan, sumber pengetahuan
Mengenai rahmat Tuhan, yang lewat rahmat tersebut unsur rasional mengenali perbedaan-perbedaan, seorang manusia melebihi manusia lainnya, dan hal itu sesuai dengan kapasitas yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya. Tapi kedua rahmat ini merupakan pembawaan sejak lahir, bukan diupayakan. Kapasitas dan rahmat yang mesti diupayakan bukanlah pembawaan sejak lahir, dan keduanya diperoleh dengan melakukan apa-apa yang dapat sesuai dengan kehendak Tuhan, di bawah bimbingan para nabi.

Filsafat politik
Ibnu Bajjah sangat menyetujui beberapa teori politik al-farabi, misalnya “Konstitusi harus disusun oleh Kepala Negara (nabi / Imam)”.Dalam Risalat al-Wada’ , ibn Bajjah memberikan dua fungsi alternatif negara:
1.                  Untuk menilai perbuatan rakyat guna membimbing mereka menapai tujuan yang mereka inginkan.
2.                  Fungsi alternatif ini yaitu merancang cara-cara mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Etika
Ibnu Bajjah membagi tindakan menjadi tindakan hewani dan manusiawi. Yang pertama dikarenakan oleh kebutuhan-kebutuhan alamiah, bersifat hewani sekaligus manusiawi. Makan, misalnya, bersifat hewani sepanjang hal itu dilakukan demi memenuhi kebutuhan dan keinginan, juga bersifat manusiawi sepanjang hal itu dilakukan untuk menjaga kekuatan dan kehidupan demi meraih karunia-karunia spiritual.

Tassawuf
Ibn Bajjah menjunjung tinggi para wali Allah dan menempatkan merka di bawah para nabi. Menurutnya, sebagian orang dikuasai oleh keinginan jasmaniah belaka – mereka berada di tingkat paling bawah – dan sebagian lagi dikuasai oleh spiritualitas – kelompok ini sangat langka, dan termasuk dalam kelompok Uwais al-Qarni dan Ibrahim ibn Adham. Seandainya kita berpaling kepada ketetapan Tuhan dan kekuasaan-Nya maka kita benar-benar memperoleh kedamaian dan kebahagiaan.


Monday, 5 May 2014

Resensi Filsafat Islam (7)


Nama               : Eva Fauziah
NIM                : 1112051100034
Jurusan            : Jurnalistik 4/
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

MISKAWAIH

A.  Masa  hidupnya 
Ahmad  ibnu muhhamad ibn ya’qub  yang nama keluarganya  miskawaih,disebut  pula abu ali al khazin. Miskawaih  menkaji alkimia bersama abu al- thayyib al-Razi,seorang ahli alkimia. Dari beberapa pernyataan ibnu sina Dan al-Tauhidi tampak bahwa mereka berpendapat bahwa ia tak mampu berfilsafat. Miskawaih tinggal selama tujjuh tahun bersama abu-fadhli ibn al-amin (360h/970m) Sebagai pustakawannya, Miskawaih meninggal 9 safar 421/16 februari 1030,tanggal kelahiranya tidak jelas.
B. KARYA-KARYANYA
Yaqud memberikan daftar 13 buah karya Miskawaih :
      Al-Fauz al-akbar
      Al-Fauz al-asghar
      Tajarib Al-Umam ( sebuah sejarah tentang Banjir Besar yang ditulis pada tahun 369 H/979 M).
      Uns al-farid (kumpulan anekdot, syair, peribahasa dan kata-kata mutiara).
      Tartib al-Sa’adah (tentang akhlak dan politik).
      Al-Musthafa (syair-syair pilihan)
      Jawidan Khirad (kumpulan ungkapan bijak).
      Al-Jami
      Al-Siyar (tentang aturan hidup)
      Tentang pengobatan sederhana (mengenai kedokteran)
      Tentang Komposisi Bajat (mengenai seni memasak)
      Kitab al-Asyribah (Mengenai Minuman)
      Tahdzib al-Akhlaq (mengenai akhlak)

C. Kepribadiannya
Miskawaih pada dasarnya adalahnya ahli sejarah dan moralis. Ia juga seorang penyair, Tauhidi mencela Miskawaih karena kekikiran dan kemunafikannya. Ia tertarik dengan alkimia bukan karena ilmu, tetapi demi emas dan harta, dan ia sangat mengabdi kepada guru-gurunya.

D. Filsafatnya
      Filsafat Pertama
Bagian terpenting kegiatan filosofis Miskawaih ditunjukan kepada etika. Tiga bukunya yang penting tentang etika telahsampai kepada kita, yaitu: (1) Tartib al-Sa’adah, (2) Tahdzib al-Akhlaq dan (3) jawidan Khirad.
Buku Miskawaih al-Fauz al-Asghar merupakan sebuah risalah umum yang memiliki konsepsi yang sama dengan bagian pertama buku al-Farabi; Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadhilah. Buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, berkenaan dengan pembuktian adanya Tuhan; Kedua, tentang ruh dan ragamnya, dan ketiga tentang kenabian.  Mengenai filsafat-filsafatnya, ia banyak berhutang denga al- Farabi, terutama dalam mempertemukan ajaran-ajaran Plato, Aristoteles, Plotinus. Sebagai pemikir religious sejati, Miskawaih mencoba membuktikan bahwa ciptaan bermula dari ketidakadaan.
      Filsafat Moral
Filsafat moral sangat berkaitan dengan psikologi, sehingga Miskawaih memulai risalah besarnya itu dengan akhlak, Tahdzib al-Akhlaq, dengan menyatakan doktrinnya tentang ruh. Dengan mengikuti Plato, ia mempersamakan pembawaan-pembawaan ruh dengan kebajikan-kebajikan. Ruh mempunyai tiga pembawaan : rasional, keberanian, hasrat dan tiga kebajikan yang saling berkaitan: bijaksana, berani dan sederhana.
Dengan memakai aturan-pribadi moral, Miskawaih membagi kebijaksanaan menjadi tujuh: ketajaman intelegensi, kesigapan akal, kejelasan pemahaman, fasilitas perolehan, ketepatan dalam membedakan, penyimpanan dan pengungkapan kembali.
      Filsafat Sejarah
Mengenai sejarah pandangan-pandangan Miskawaih bersifat filosofis, ilmiah dan kritis. Ia menggariskan fungsi sejarah dan tugas-tugas ahli sejarah : sejarah bukanlah cerita hiburan tentang diri para raja, tetapi suatu pencerminan struktur politik ekonomi masyarakat pada masa-masa tertentu. Untuk itu, ahli sejarah harus menjaga diri terhadap kecenderungan umum mencampuraadukan kenyataan dan rekaan atau kejadian-kejadian palsu.
Sejarah bukanlah kumpulan kenyaataan terpisah dan statis, tetapi merupakan proses kreatif-dinamis harapan-harapan dan aspirasi-aspirasi manusia. Ia adalah organisme yang  hidup dan tumbuh, yang strukturnya ditentukan oleh cita-cita kebangsaan dan Negara.

Resensi Filsafat Islam (6)


Nama               : Eva Fauziah
NIM                : 1112051100034
Jurusan            : Jurnalistik 4/
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

AL-FARABI

·         MASA HIDUPNYA

Abu Nasr al-Farabi lahir pada tahun 258 H/ 870 M dan meninggal pada tahun 339 H/ 950 M. Berbeda dengan beberapa sarjana muslim lainnya, al-Farabi tidak menuliskan riwayat hidupnya, dan tak seorang pun di antara para pengikutnya merekam kehidupannya. Sebagai pembangun agung sistem filsafat, ia telah membaktikan diri untuk berpikir dan merenung, menjauh dari kegiatan politik, gangguan dan kekisruhan masyarakat. Kehidupan al-Farabi dapat dibagi menjadi dua periode, Pertama, bermula sejak ia lahir sampai ia berusia lima puluh tahun. Informasi yang didapat tentang periode ini adalah bahwa ia lahir di Wasij, sebuah dusun di dekat dengan Farab, di Transoxiana, pada tahun 258 H/ 870 M. Ia lahir sebagai orang Turki, ayahnya seorang jenderal dan ia sendiri bekerja sebagai hakim untuk beberapa lama.

Pendidikan dasarnya adalah keagamaan dan bahasa, ia mempelajari fiqh, Hadis, dan tafsir al-Quran. Ia mempelajari bahasa Arab, bahasa Turki, dan Parsi. Telah dinyatakan oleh ibn Khalikan bahwa al-Farabi menguasai tujuh puluh bahasa, namun sangat di ragukan bahwa al-Farabi menguasai bahasa lain. Dari penafsiran al-Farabi tentang kata safsathah (sophistry), tampak jelas bahwa al-Farabi tidak mengerti bahasa Yunani. Ia tidak mengabaikan manfaat dari studi rasional semasa hidupnya seperti matematika dan filsafat. Ia juga tidak banyak memperhatikan ilmu kedokteran. Ia lebih tertarik dengan studi rasional yang kemudian membawanya mengembara menuntut ilmu hingga meninggalkan kota kelahirannya.

Periode kedua kehidupan al-Farabi adalah periode usia tua dan kematangan penuh. Bahghdad adalah kota pertama yang dikunjunginya sebagai pusat belajar yang terkemuka, disana ia berjumpa dengan sarjana dari berbagai bidang, diantaranya para filosof dan penerjemah. Ia tertarik untuk mempelajari logika. Ia belajar logika kepada ibn Yunus untuk beberapa lama. Karena ia dapat mengungguli gurunya, ia memperoleh sebutan “Guru Kedua” atas pencapainnya yang gemilang dibidang ini. Selama dua puluh tahun al-Farabi bermukim di Baghdad dan kemudian ia tertarik oleh pusat kebudayaan lain di Aleppo. Disana temapt orang-orang brilian dan para sarjana, Istana Saif al-Daulah adalah tempat al-Farabi tinggal bersama dengan para penyair, ahli bahasa, filosof dan sarjana-sarjana kenamaan lainnya. Al-Farabi tinggal di Syria hingga wafat pada tahun 339 H/ 950 M. Ia sempat mengunjungi Mesir menjelang akhir hayatnya.

·         KARYA-KARYANYA
Tercatat ada tujuh puluh buah tulisan al-Farabi. Karya-karyanya tersebut dibagi menjadi dua, satu diantaranya mengenai logika dan yang lainnya mengenai bidang lain. Karya-karya tentang logika menyangkut bagian yang berbeda dari Organon-nya Aristoteles, baik yang berbentuk komentar ataupun ulasan panjang.
Karya-karya kelompok kedua menyangkut berbagai cabang pengetahuan filsafat, fisika, matematika, metafisika, etika dan politik.Karya-karya al-Farabi tersebar luas di Timur pada abad ke-4 dan 5 H/ ke-10 dan 11 M, dan mungkin mencapai Barat ketika sarjana-sarjana Andalusia menjadi pengikut al-Farabi. Beberapa tulisannya telah pula diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dan Latin, dan telah memengaruhi sarjana Yahudi dan Kristen.

·         FILSAFATNYA
Filsafat al-Farabi mempunyai corak dan tujuan yang berbeda. Ia mengambil ajaran-ajaran para filosof terdahulu, membangun kembali dalam bentuk yang sesuai dengan lingkup kebudayaan, dan menyusunnya sedemikian sistematis dan selaras. Al-Farabi adalah seorang yang logis baik dalam pemikiran, pernyataan, argumentasi, diskusi, keterangan dan penalarannya.

Filsafatnya mungkin bertumpu pada beberapa perkiraan yang keliru dan mungkin juga berisi beberapa hipotesis yang telah ditolak oleh ilmu pengetahuan modern, tetapi ia mempunyai peranan penting dan pengaruh yang besar di bidang pemikiran masa-masa sesudahnya.