Nama : Eva Fauziah
NIM : 1112051100034
Jurusan : Jurnalistik 4/b
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Ibnu Sina
Ibnu Sina (370/980-428/1037), adalah
satu-satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat
yang lengkap dan terperinci. Ia menunjukan jiwa yang jenius dalam menemukan
metode-metode dan alasan-alasan yang diperlukan untuk merumuskan kembali
pemikiran rasional murni dan tradisi intelektual Hellenisme yang ia warisi dan
lebih jauh lagi dalam sistem keagamaan Islam. Karakteristik paling dasar
pemikiran Ibnu Sina adalah pencapaian definisi dengan metode pemisahan dan
pembedaan konsep-konsep secara tegas dan keras. Hal ini memberikan kehalusan
yang luar biasa terhadap pemikiran-pemikirannya.
·
Doktrin tentang wujud
Menurut Ibnu Sina, esensi mewujud
dalam pikiran Tuhan (dan dalam pikiran-pikiran intelegensi-intelegensi aktif)
sebelum hal-hal itu ada itu maujud di dalam dunia lahiriah, dan mereka juga ada
dalam pikiran kita setelah mereka itu mewujud. Keberadaan adalah suatu yang
ditambah, bukan pada obyek-obyek yang ada, tetapi pada esensi.
·
Hubungan jiwa raga
Ibnu Sina menegaskan, tentang keabadian
jiwa itu didasarkan atas pandangan bahwa jiwa merupakan suatu subtansi dan
bukan suatu bentuk tubuh. Namun juga, hubungan antara jiwa dan tubuh
demikian erat sehingga hal ini bisa mempengaruhi akal. Sebenarnya, kalau jiwa
cukup kuat, jiwa dapat menyembuhkan dan menyakitkan badan lain tanpa sarana
apapun, karena secara ekslusif, jiwa menyatu dengan tubuh.
·
Teori Pengetahuan
Ibnu Sina memberikan seluruh
pengetahuan sebagai jenis abstraksi untuk memahami bentuk suatu yang diketahui.
Penekanan utamanya yang sangat mungkin diuraikan olehnya sendiri adalah pada
tingkat-tingkat daya abstraksi ini dalam pemahaman yang berbeda-beda. Tetapi
kunci utama doktrin Ibnu Sina tentang persepsi ialah pembedaan antara persepsi
internal dan eksternal. Persepsi internal ialah kerja panca indera eksternal. Ibnu
sina juga berpendapat bahwa persepsi dan imajinasi hanya menyatakan kepada kita
tentang kualitas perceptual dari sesuatu, ukuran, warna, bentuk dsb.
Ajaran tentang kenabian:
Pentingnya gejala kenabian danwahyu
ilahi merupakan sesuatu yang oleh ibnu sina terlah diusahakan untuk dibangun
dalam empat tingkatan : intelektual, imajinatif, kejaiban dan sosiopolitis.
Tuhan di dunia
Tuhan adalah kemaujudan yang mesti.
Kemaujudan yang mesti itu jumlahnya harus satu. Nyatanya, walaupun di dalam
kemaujudan ini tak boleh terdapat kelipatan sifat-sifatNya, tetapi tuhan
memiliki esensi lain. Tak ada atribut lain kecuali bahwa Dia itu ada dan mesti
ada, ini di nyatakan oleh Ibnu Sina dengan mengatakan bahwa esensi Tuhan
identik dengan keberadannya yang mesti itu. Karena tuhan tidak beresensi, maka
dia mutlak sederhana dan tak dapat didefinisikan.
Pengaruhnya di Timur dan Barat
Di timur , sesungguhnya sistem Ibnu
Sina telah mendominasi tradisi falsafah muslim sampai zaman modern ketika Ia
disejajarkan dengan beberapa orang pemikir barat oleh mereka yang terdidik di
universitas-universitas modern. Karya-karya Ibnu Sina diterjemahkan ke
dalam bahasa Latin di Spanyol pada pertengahan abad ke 6 H/12 M.
Ibnu
Bajjah
Abu Bakr Muhammad ibn Yahya
al-Sha’igh, yang dikenal sebagai ibn Bajjah atau Avempace (meninggal tahun 533
H/ 1138M), berasal dari keluarga al-Tujib,
karenanya ia juga dikenal sebagai al-Tujibi.
Ibn Bajjah lahir di Saragossa menjelang akhir abad ke-5 H/11 M, dan besar di
sana hingga merampungkan jenjang akademisnya dengan menjadi sarjana bahasa dan
sastra Arab yang ulung serta menguasai dua belas maam ilmu pengetahuan.
Ketika masa sulit dan kacau
dalam sejarah Spanyol dan Afrika barat-laut (Masa Gubernur Abu
Bakr Yahya ibn Yusuf ibn Tasyifin). Para gubernur kota dan daerah menyatakan
kemerdekaan mereka. Mereka yang bermusuhan saling menuduh berbuat bid’ah
demi meraih keunggulan dan simpati rakyat. Ibnu Bajjah memiliki banyak
musuh dan mereka mencap sebagai ahli bid’ah dan mencoba membunuhnya.
Ibn Zuhr, dokter termahsysur pada saat itu berhasil membunuhnya dengan racun
pada bulan Ramadhan tahun 533 H/1138 M di Fez.
Para pendahulunya
Di antara para pendahulu ibn Bajjah,
ibn Hazm oantas diberi perhatian khusus. Ibn Hazm berada di tempat yang sangat
tinggi dalam teologi dan ilmu-ilmu keagamaan lainnya. Karyanya kitab al-Fashl
fi al-Milal Wan-Nihal adalah unik, yang di dalamnya dia menulis
pernyataan-pernyataan kebenaran dan doktrin-doktrin Kristen, Yahudi, dan yang
lain-lainnya tanpa dalam menyatakan prasangka apapun.
Tokoh-tokoh sezamannya
Malik ibn Wuhaib dari Seville :
Cara-cara penelitian dalam ilmu-ilmu
kuno hanya diketahui oleh ibn Bajjah dan Malik. Malik mempelajari ilmu-ilmu
keagamaan dan menjadi salah seorang tokoh dalam bidang itu.
Al-Amir al-Muqtadir ibn Hud :
Ia adalah raja yang memimpin
Saragossa (438 H/ 1046 M – 474 H/ 1081 M). Ia ahli dalam bidang matematika dan
filsafat.
Karya-karyanya
1.
The
Bodleian MS., Arabic Pococke, No. 206, berisi 222 folio. Ini kekurangan
risalah-risalah mengenai ilmu pengobatan dan Risalat al-Wada’.
2.
The
Berlin MS. No. 5060.
3.
The
Esurial MS. No. 612. Hanya berisi risalah-risalah yang ditulis oleh ibn Bajjah
sebagai penjelasan atas risalah-risalah al-Farabi dalam masalah logika.
4.
The
Khediviah MS. Akhlaq No. 290.
5.
Brockelmann
menyatakan bahwa The Berlin Library memiliki sebuah syair pujian karya ibn
Bajjah berjudul Tardiyyah.
6.
Beberapa
karya yang disuting oleh Asia Palacios dengan terjemahan bahasa Spanyol dan
catatan-catatan yang diperlukan.
7.
Dua
karya yang disunting oleh Dr. Shagrir Hasan al-Ma’sumi.
Filsafatnya
Ibn Bajjah menyandarkan filsafat dan
logikanya pada karya-karya al-Farabi, tapi jelas bahwa ia telah memberikan
sejumlah besar tambahan dalam karya-karya itu dan ia menggunakan metode
penelitian filsafat yang benar-benar lain. Ia berurusan dengan segala masalah
hanya berdasarkan nalar semata. Ibn Bajjah menulis uraian-uraian sendiri atas
karya-karya Aristoteles. Ibn Bajjah mendasarkan metafisika dan psikologinya
pada fisika.
Materi dan bentuk
Menurut Ibn Bajjah materi dapat
bereksistensi tanpa harus ada bentuk. Jika materi berbentuk, maka ia akan
terbagi menjadi materi “materi” dan “bentuk” dan begitu seterusnya. “Bentuk
Pertama” merupakan suatu bentuk abstrak yang bereksistensi dalam materi yang
dikatakan sebagai tidak mempunyai bentuk.
Bentuk suatu tubuh memiliki tiga
tingkatan: (1) bentuk jiwa umum atau bentuk intelektual (2) bentuk kejiwaan
khusus (3) bentuk fisik. Bentuk-bentuk yang berkaitan dengan aktif dinamakan
bentuk-bentuk kejiwaan umum, dan bentuk-bentuk yang berkaitan dengan akal sehat
dinamakan bentuk-bentuk kejiwaan khusus.
Psikologi
Setiap makhluk fana harus
melaksanakan fungsi khusus demi kedudukannya di alam raya ini, maka yang
nutrisi itu mempunya dua tujuan, yaitu pertumbuhan dan reproduksi. Persepsi
psikis ada dua macam: sensasi dan imajinasi. Sensasi merupakan suatu kapasitas
tubuh yang diaktifkan oleh yang terasa. Pada taraf akhir imajinasi, muncullah
akal, dan unsur rasional pun mulai berfungsi.
Akal dan pengetahuan
Menurut ibn Bajjah, akal merupakan
bagian terpenting manusia. pengetahuan yang benar dapat diperoleh lewat akal
yang merupakan satu-satunya sarana yang melaluinya kita mampu mencapai
kemakmuran dan membangun kepribadian. Pengetahuan manusia berarti bahwa dia
melihat yang bereksistensi dan eksistensi sempurna mereka dalam akalnya lewat
wawasan ruhnya yang merupakan rahmat dari Tuhan.
Tuhan, sumber pengetahuan
Mengenai rahmat Tuhan, yang lewat
rahmat tersebut unsur rasional mengenali perbedaan-perbedaan, seorang manusia
melebihi manusia lainnya, dan hal itu sesuai dengan kapasitas yang telah dikaruniakan
Tuhan kepadanya. Tapi kedua rahmat ini merupakan pembawaan sejak lahir, bukan
diupayakan. Kapasitas dan rahmat yang mesti diupayakan bukanlah pembawaan sejak
lahir, dan keduanya diperoleh dengan melakukan apa-apa yang dapat sesuai dengan
kehendak Tuhan, di bawah bimbingan para nabi.
Filsafat politik
Ibnu Bajjah sangat menyetujui
beberapa teori politik al-farabi, misalnya “Konstitusi harus disusun oleh
Kepala Negara (nabi / Imam)”.Dalam Risalat al-Wada’ , ibn Bajjah
memberikan dua fungsi alternatif negara:
1.
Untuk
menilai perbuatan rakyat guna membimbing mereka menapai tujuan yang mereka
inginkan.
2.
Fungsi
alternatif ini yaitu merancang cara-cara mencapai tujuan-tujuan tertentu.
Etika
Ibnu Bajjah membagi tindakan menjadi
tindakan hewani dan manusiawi. Yang pertama dikarenakan oleh
kebutuhan-kebutuhan alamiah, bersifat hewani sekaligus manusiawi. Makan,
misalnya, bersifat hewani sepanjang hal itu dilakukan demi memenuhi kebutuhan
dan keinginan, juga bersifat manusiawi sepanjang hal itu dilakukan untuk
menjaga kekuatan dan kehidupan demi meraih karunia-karunia spiritual.
Tassawuf
Ibn Bajjah menjunjung tinggi para
wali Allah dan menempatkan merka di bawah para nabi. Menurutnya, sebagian orang
dikuasai oleh keinginan jasmaniah belaka – mereka berada di tingkat paling
bawah – dan sebagian lagi dikuasai oleh spiritualitas – kelompok ini sangat
langka, dan termasuk dalam kelompok Uwais al-Qarni dan Ibrahim ibn Adham. Seandainya
kita berpaling kepada ketetapan Tuhan dan kekuasaan-Nya maka kita benar-benar
memperoleh kedamaian dan kebahagiaan.
No comments:
Post a Comment