Monday, 12 May 2014

Resensi Filsafat Islam (8 dan 9)

Nama               : Eva Fauziah
NIM                : 1112051100034
Jurusan            : Jurnalistik 4/
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Ibnu Sina

Ibnu Sina (370/980-428/1037), adalah satu-satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci. Ia menunjukan jiwa yang jenius dalam menemukan metode-metode dan alasan-alasan yang diperlukan untuk merumuskan kembali pemikiran rasional murni dan tradisi intelektual Hellenisme yang ia warisi dan lebih jauh lagi dalam sistem keagamaan Islam. Karakteristik paling dasar pemikiran Ibnu Sina adalah pencapaian definisi dengan metode pemisahan dan pembedaan konsep-konsep secara tegas dan keras. Hal ini memberikan kehalusan yang luar biasa terhadap pemikiran-pemikirannya.

·         Doktrin tentang wujud
Menurut Ibnu Sina, esensi mewujud dalam pikiran Tuhan (dan dalam pikiran-pikiran intelegensi-intelegensi aktif) sebelum hal-hal itu ada itu maujud di dalam dunia lahiriah, dan mereka juga ada dalam pikiran kita setelah mereka itu mewujud. Keberadaan adalah suatu yang ditambah, bukan pada obyek-obyek yang ada, tetapi pada esensi.

·         Hubungan jiwa raga
Ibnu Sina menegaskan, tentang keabadian jiwa itu didasarkan atas pandangan bahwa jiwa merupakan suatu subtansi dan bukan suatu bentuk tubuh. Namun juga, hubungan antara jiwa dan tubuh demikian erat sehingga hal ini bisa mempengaruhi akal. Sebenarnya, kalau jiwa cukup kuat, jiwa dapat menyembuhkan dan menyakitkan badan lain tanpa sarana apapun, karena secara ekslusif, jiwa menyatu dengan tubuh.

·         Teori Pengetahuan
Ibnu Sina memberikan seluruh pengetahuan sebagai jenis abstraksi untuk memahami bentuk suatu yang diketahui. Penekanan utamanya yang sangat mungkin diuraikan olehnya sendiri adalah pada tingkat-tingkat daya abstraksi ini dalam pemahaman yang berbeda-beda. Tetapi kunci utama doktrin Ibnu Sina tentang persepsi ialah pembedaan antara persepsi internal dan eksternal. Persepsi internal ialah kerja panca indera eksternal. Ibnu sina juga berpendapat bahwa persepsi dan imajinasi hanya menyatakan kepada kita tentang kualitas perceptual dari sesuatu, ukuran, warna, bentuk dsb.

Ajaran tentang kenabian:

Pentingnya gejala kenabian danwahyu ilahi merupakan sesuatu yang oleh ibnu sina terlah diusahakan untuk dibangun dalam empat tingkatan : intelektual, imajinatif, kejaiban dan sosiopolitis.

Tuhan di dunia
Tuhan adalah kemaujudan yang mesti. Kemaujudan yang mesti itu jumlahnya harus satu. Nyatanya, walaupun di dalam kemaujudan ini tak boleh terdapat kelipatan sifat-sifatNya, tetapi tuhan memiliki esensi lain. Tak ada atribut lain kecuali bahwa Dia itu ada dan mesti ada, ini di nyatakan oleh Ibnu Sina dengan mengatakan bahwa esensi Tuhan identik dengan keberadannya yang mesti itu. Karena tuhan tidak beresensi, maka dia mutlak sederhana dan tak dapat didefinisikan.

Pengaruhnya di Timur dan Barat
Di timur , sesungguhnya sistem Ibnu Sina telah mendominasi tradisi falsafah muslim sampai zaman modern ketika Ia disejajarkan dengan beberapa orang pemikir barat oleh mereka yang terdidik di universitas-universitas modern.  Karya-karya Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam bahasa Latin di Spanyol pada pertengahan abad ke 6 H/12 M.

Ibnu Bajjah

Abu Bakr Muhammad ibn Yahya al-Sha’igh, yang dikenal sebagai ibn Bajjah atau Avempace (meninggal tahun 533 H/ 1138M), berasal dari keluarga al-Tujib, karenanya ia juga dikenal sebagai al-Tujibi. Ibn Bajjah lahir di Saragossa menjelang akhir abad ke-5 H/11 M, dan besar di sana hingga merampungkan jenjang akademisnya dengan menjadi sarjana bahasa dan sastra Arab yang ulung serta menguasai dua belas maam ilmu pengetahuan.
Ketika masa sulit dan kacau dalam sejarah Spanyol dan Afrika barat-laut (Masa Gubernur Abu Bakr Yahya ibn Yusuf ibn Tasyifin). Para gubernur kota dan daerah menyatakan kemerdekaan mereka. Mereka yang bermusuhan saling menuduh berbuat bid’ah demi meraih keunggulan dan simpati rakyat. Ibnu Bajjah memiliki banyak musuh dan mereka mencap sebagai ahli bid’ah dan mencoba membunuhnya. Ibn Zuhr, dokter termahsysur pada saat itu berhasil membunuhnya dengan racun pada bulan Ramadhan tahun 533 H/1138 M di Fez.

Para pendahulunya
Di antara para pendahulu ibn Bajjah, ibn Hazm oantas diberi perhatian khusus. Ibn Hazm berada di tempat yang sangat tinggi dalam teologi dan ilmu-ilmu keagamaan lainnya. Karyanya kitab al-Fashl fi al-Milal Wan-Nihal adalah unik, yang di dalamnya dia menulis pernyataan-pernyataan kebenaran dan doktrin-doktrin Kristen, Yahudi, dan yang lain-lainnya tanpa dalam menyatakan prasangka apapun.

Tokoh-tokoh sezamannya
Malik ibn Wuhaib dari Seville :
Cara-cara penelitian dalam ilmu-ilmu kuno hanya diketahui oleh ibn Bajjah dan Malik. Malik mempelajari ilmu-ilmu keagamaan dan menjadi salah seorang tokoh dalam bidang itu.
Al-Amir al-Muqtadir ibn Hud :
Ia adalah raja yang memimpin Saragossa (438 H/ 1046 M – 474 H/ 1081 M). Ia ahli dalam bidang matematika dan filsafat.
Karya-karyanya
1.                  The Bodleian MS., Arabic Pococke, No. 206, berisi 222 folio. Ini kekurangan risalah-risalah mengenai ilmu pengobatan dan Risalat al-Wada’.
2.                  The Berlin MS. No. 5060.
3.                  The Esurial MS. No. 612. Hanya berisi risalah-risalah yang ditulis oleh ibn Bajjah sebagai penjelasan atas risalah-risalah al-Farabi dalam masalah logika.
4.                  The Khediviah MS. Akhlaq No. 290.
5.                  Brockelmann menyatakan bahwa The Berlin Library memiliki sebuah syair pujian karya ibn Bajjah berjudul Tardiyyah.
6.                  Beberapa karya yang disuting oleh Asia Palacios dengan terjemahan bahasa Spanyol dan catatan-catatan yang diperlukan.
7.                  Dua karya yang disunting oleh Dr. Shagrir Hasan al-Ma’sumi.

Filsafatnya
Ibn Bajjah menyandarkan filsafat dan logikanya pada karya-karya al-Farabi, tapi jelas bahwa ia telah memberikan sejumlah besar tambahan dalam karya-karya itu dan ia menggunakan metode penelitian filsafat yang benar-benar lain. Ia berurusan dengan segala masalah hanya berdasarkan nalar semata. Ibn Bajjah menulis uraian-uraian sendiri atas karya-karya Aristoteles. Ibn Bajjah mendasarkan metafisika dan psikologinya pada fisika.

Materi dan bentuk
Menurut Ibn Bajjah materi dapat bereksistensi tanpa harus ada bentuk. Jika materi berbentuk, maka ia akan terbagi menjadi materi “materi” dan “bentuk” dan begitu seterusnya. “Bentuk Pertama” merupakan suatu bentuk abstrak yang bereksistensi dalam materi yang dikatakan sebagai tidak mempunyai bentuk.
Bentuk suatu tubuh memiliki tiga tingkatan: (1) bentuk jiwa umum atau bentuk intelektual (2) bentuk kejiwaan khusus (3) bentuk fisik. Bentuk-bentuk yang berkaitan dengan aktif dinamakan bentuk-bentuk kejiwaan umum, dan bentuk-bentuk yang berkaitan dengan akal sehat dinamakan bentuk-bentuk kejiwaan khusus.

Psikologi
Setiap makhluk fana harus melaksanakan fungsi khusus demi kedudukannya di alam raya ini, maka yang nutrisi itu mempunya dua tujuan, yaitu pertumbuhan dan reproduksi. Persepsi psikis ada dua macam: sensasi dan imajinasi. Sensasi merupakan suatu kapasitas tubuh yang diaktifkan oleh yang terasa. Pada taraf akhir imajinasi, muncullah akal, dan unsur rasional pun mulai berfungsi.

Akal dan pengetahuan
Menurut ibn Bajjah, akal merupakan bagian terpenting manusia. pengetahuan yang benar dapat diperoleh lewat akal yang merupakan satu-satunya sarana yang melaluinya kita mampu mencapai kemakmuran dan membangun kepribadian. Pengetahuan manusia berarti bahwa dia melihat yang bereksistensi dan eksistensi sempurna mereka dalam akalnya lewat wawasan ruhnya yang merupakan rahmat dari Tuhan.

Tuhan, sumber pengetahuan
Mengenai rahmat Tuhan, yang lewat rahmat tersebut unsur rasional mengenali perbedaan-perbedaan, seorang manusia melebihi manusia lainnya, dan hal itu sesuai dengan kapasitas yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya. Tapi kedua rahmat ini merupakan pembawaan sejak lahir, bukan diupayakan. Kapasitas dan rahmat yang mesti diupayakan bukanlah pembawaan sejak lahir, dan keduanya diperoleh dengan melakukan apa-apa yang dapat sesuai dengan kehendak Tuhan, di bawah bimbingan para nabi.

Filsafat politik
Ibnu Bajjah sangat menyetujui beberapa teori politik al-farabi, misalnya “Konstitusi harus disusun oleh Kepala Negara (nabi / Imam)”.Dalam Risalat al-Wada’ , ibn Bajjah memberikan dua fungsi alternatif negara:
1.                  Untuk menilai perbuatan rakyat guna membimbing mereka menapai tujuan yang mereka inginkan.
2.                  Fungsi alternatif ini yaitu merancang cara-cara mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Etika
Ibnu Bajjah membagi tindakan menjadi tindakan hewani dan manusiawi. Yang pertama dikarenakan oleh kebutuhan-kebutuhan alamiah, bersifat hewani sekaligus manusiawi. Makan, misalnya, bersifat hewani sepanjang hal itu dilakukan demi memenuhi kebutuhan dan keinginan, juga bersifat manusiawi sepanjang hal itu dilakukan untuk menjaga kekuatan dan kehidupan demi meraih karunia-karunia spiritual.

Tassawuf
Ibn Bajjah menjunjung tinggi para wali Allah dan menempatkan merka di bawah para nabi. Menurutnya, sebagian orang dikuasai oleh keinginan jasmaniah belaka – mereka berada di tingkat paling bawah – dan sebagian lagi dikuasai oleh spiritualitas – kelompok ini sangat langka, dan termasuk dalam kelompok Uwais al-Qarni dan Ibrahim ibn Adham. Seandainya kita berpaling kepada ketetapan Tuhan dan kekuasaan-Nya maka kita benar-benar memperoleh kedamaian dan kebahagiaan.


No comments:

Post a Comment