Nama : Eva Fauziah
NIM : 1112051100034
Jurusan : Jurnalistik 4/b
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
IBNU RUSYD
1.
Pendahuluan
Abu al-Walid Muhammad Ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd lahir di Cordova pada tahun 520 H/1126 M. keluarganya terkenal alim dalam ilmu fiqh. Ayah dan kakeknya pernah menjadi Kepala Pengadilan di Andalusia. Latar belakang inilah yang membuatnya berkesempatan untuk meraih kedudukan yang tinggi dalam dalam studi-studi keislaman. Al-Quran beserta penafsirannya, Hadis Nabi, ilmu fiqh, bahasa dan sastra Arab dipelajarinya secara lisan dari seorang ahli (‘alim). Dia merevisi bukuMalikiah, al-Muwatin, yang dipelajarinya bersama ayahnya abu al-Qasim dan dihapalnya. Dia juga mempelajari matematika, fisika, astronomi, logika, filsafat dan ilmu pengobatan.guru-gurunya dalam ilmu tersebut tidak terkenal, tapi secara keseluruhan Cordova terkenal sebagai pusat studi-studi filsafat, sedangkan Seville terkenal karena aktifitas-aktifitas artistiknya.Dalam kisah Hayy ibn Yaqzam, ibn Tufail mendapati kebanyakan alim di Maghrib tertari kepada matematika dan bahwa filsafat yang diajarkan lewat buku-buku Ariestoteles, al-Farabi dan ibnu Sina tidak memadai.
Abu al-Walid Muhammad Ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd lahir di Cordova pada tahun 520 H/1126 M. keluarganya terkenal alim dalam ilmu fiqh. Ayah dan kakeknya pernah menjadi Kepala Pengadilan di Andalusia. Latar belakang inilah yang membuatnya berkesempatan untuk meraih kedudukan yang tinggi dalam dalam studi-studi keislaman. Al-Quran beserta penafsirannya, Hadis Nabi, ilmu fiqh, bahasa dan sastra Arab dipelajarinya secara lisan dari seorang ahli (‘alim). Dia merevisi bukuMalikiah, al-Muwatin, yang dipelajarinya bersama ayahnya abu al-Qasim dan dihapalnya. Dia juga mempelajari matematika, fisika, astronomi, logika, filsafat dan ilmu pengobatan.guru-gurunya dalam ilmu tersebut tidak terkenal, tapi secara keseluruhan Cordova terkenal sebagai pusat studi-studi filsafat, sedangkan Seville terkenal karena aktifitas-aktifitas artistiknya.Dalam kisah Hayy ibn Yaqzam, ibn Tufail mendapati kebanyakan alim di Maghrib tertari kepada matematika dan bahwa filsafat yang diajarkan lewat buku-buku Ariestoteles, al-Farabi dan ibnu Sina tidak memadai.
Dalam penjelasan lain. Penulis riwayat hidup yang sama, Ibnu Rusyd menyatakan
bahwa suatu hari Ibnu Tufail memanggilnya dan mengatakan kepadanya bahwa
pangeran orang-orang beriman itu mengeluh tentang kesulitan ungkapan dari
Ariestoteles dan para menerjemahnya, dan menyebut kekaburan arah-arahnya. Dikisahkan bahwa dia mengulas tiga macam ulasan: ulasan yang
besar, menengah, dan kecil. Ulasan-ulasan tafsir, mengikuti poli tfsir
Al-Quran. Dia mengutip satu paragraph dari ulasan Ariestoteles dan kemudian
memberikan penafsiran serta ulasan aslinya. Kini kita masih memiliki ulasan
besarnya dalam bahasa Arab talkhis berarti “rangkuman”. Suatu ringkasan
yang berjudul Majmu’ah atau Jawawi yang terdir atas enam buku (Physics, De
Caelo et Mundo, De Generation et Corruption, Meteologica, De Anima Metapsyca)
Kini telah diterbitkan kedalam bahasa arab.
Secara keseluruhan nilai ulasan-ulasan Ibn Rusyd bersifat historis, kecuali
ulasan-ulasan kecilnya yang mengungkapkan, sampai batas-batas tertentu,
pemikirannya sendiri. Pandangan filosofisnya sendiri temaktub dalam tiga buku
penting Fashal, Kasyiab, dan Thahafut. Dan dalam sebuah risalah pendek berjudul
Al-itishal. Dia lebih dihargai di eropa tengah dari pada
di timur dikarenakan beberapa sebab karena tulisannya yang banyak jumlahnya
yang diterjemahkan kedalam bahasa latin dan diedarkan serta dilestarikan,
sedangkan teksnya yang asli dalam bahasa arab dibakar dan dilarang diterbitkan
lantaran mengandung semangat anti filsafat dan filosof. Eropa pada zaman Renaisance dengan mudah menerima filsafat dan
metode ilmiah sebagaimana dianut Ibnu Rusdy sedangkan di timur ilmu dan
filsafat mulai dikorbankan demi berkembangnya gerakan mistis dan agama.
2. Filsafat dan Agama
Persesuaian filsafat dan agama sudah sepantasnya dianggap sebagai ciri
terpenting dalam filsafat islam. Sebagai seorang filosof, dia menyadari bahwa
telah menjadi tugasnyalah para filosof dalam menangkis serangan dari para faqih
dan teolog, terutama setelah mereka dikutuk oleh al-Ghajali dalam karyanya
ketidak logisan para filosof risalah Ibn Rusdy yang berjudul : fashl
al-maqal fi ma bainal hikmah was-Syariah minal-istthal merupakan satu
pembelaan bagi filsafat sepanjang filsafat tersebut sesuai dengan agama. Ibn Rusyd membuka
risalahnya dengan mengajukan pertanyaan apakah filsafat itu sah, dilarang,
dianjurkan, atau diharuskan dalam syariah. Ada dua cara untuk mendapatan
pengetahuan: yaitu pencerapan dan penyesuaian, Persesuaian bisa bersifat
demonstratif dielektis dan retoris. Menurut Ibn Rusdy, agama didasarkan pada
tiga prinsip yang mesti diyakini oleh setiap muslim : eksistensi tuhan,
kenabian dan kebangkitan.
Ketiga macam persesuaian ini digunakan dalam Al-Quran manusia terdiri atas tiga
golongan : para filosof, para teolog dan orang-orang awam (al-Jumhur). Para
filosof dan kaum yang mengunakan cara demonstratif. Para teolog yaitu
orang-orang Asy’ariyah, yang ajaran-ajrannya mereka menjadi ajaran resmi pada
masa Ibn Rusdy ialah kaum yang lebih rendah tingkatannnya, karena mereka
memulai dari penelaran dialektis dan bukan dari kebenaran ilmiah. Orang awam
ialah “Orang0orang retoris” yang hanya bisa mencerap sesuatu lewat conto-contoh
dan pemikiran puitis.
3. Jalan Menuju Tuhan
Setelah menjelaskan bahwa ajaran agama islam memiliki makna tersurat dan
tersirat, yang simbolis bagi orang awam dan yang tersembunyi bagi kaum
terpelajar, Ibn Rusdy berusaha dalam bukunya : al-Kasyf an’ Manahij al-Adillah
, menemukan jalan menuju tuhan, yaitu jalan-jalan menuju tuhan yaitu metode
yang ada di dalam Al-Qur’an untuk mencapai kepercayaan dan eksistensi tuhan dan
pengetahuan tentang sifatnya, menurut makna yang tersurat itu sebab pengetahuan
pertama yang boleh dimiliki oleh setiap orang yang berakal ialah pengetahuan
tentang hal-hal yang akan membuatnya yakin akan eksistensi Sang pencipta.
karena buku itu ditulis dalam bentuk teologis, maka Ibn Rusyd mulai meninjau
berbagai metode-metode teologi mazhab islam, yang digolongkannya menjadi lima
golongan besar : Golongan Asy’ariyah, Mu’tazilah, Batiniah, Hasyawiyah, dan
Sufi.
Lalu jalan apa yang pantas yang harus ditempuh untuk mencapai tuhan? Ada du
cara yaitu: pertama bersifat teologis dan kedua bersifat kosmologis, keduanya
mulai dari manusia dan makhluk-makhluk lain, dan bnukan dari alam raya sebagai
suatu keseluruhan. Pembuktian tentang adanya tuhan bertumpu pada dua prinsip:
pertama, bahwa semua kemaujudan sesuai dengan kemaujudan perantara yang
berkehendak berbuat begitu, sebab kesesuaian tidak terjadi dengan sendirinya,
segala sesuatu diciptakan untuk kepentingan manusia dan makhluk lainnya. Tuhan
disifat dengan tujuh sifat utama : tahu, hidup, kuasa, berkehendak, mendengar,
melihat, dan berfirman. Ada tiga sikap yang menyangkut zat tuhan dan sifatnya.
Yang pertama yaitu sangkalan tentang adanya sifat-sifat itu ini merupakn sikap
kaum Mu’tazilah, kedua yaitu penegasan tentang sifat itu. Yang ketiga
kesempurnaan tetang sifat-sifat itu tinggi dan berada diluar jangkauan
pengtahuan manusia.
Tindakan-tindakan tuhan bisa diringkaskan menjadi lima tindakan utama:
mencipta, mengutus nabi-nabi, menetapkan takdir, membangkitkan kembali dan
mengadili. Sebab akibat merupakan syarat, seluruh hujjah Ibn Rusdy menyangkut
pembuktian bahwa tiada sesuatu pun muncul tanpa sebab, dan sebab itu muncul
banyak jumlahnya dan bersumber pada sebab utama
4. Jalan Menuju Pengtahuan
Filsafat abad pertengahan eropa dipengruhi oleh Ariestoteles lewat ulasa0ulasa
yang ditulis oleh Ibn Rusdy, sebagaimana diungkapkan secara tepat oleh Gilson
“cukup aneh” sedikit sekali orang yang lebih berpengaruh terjadap Ibn Rusdy
dalam membentuk pemikiran umum mengenai filsafat abad pertangahan yang kini
diterima sebagai kebenaran sejarah.
Oleh Ibn Rusyd, akal dan ruh dibedakan dengan hati-hati, dalam pemikirannya
tentangproses pengetahuandiperlukan pemahaman penuh mengenai urutan hirarkis
dari segala tiada guna memahami kedudukan dua entitas ini. Inilah sebabnya
mengapa Ibn Rusdy mebuka risalahnya Talkis kitab al-Nafs dengan memberikan
ulasan pendek tentang komposisi periada-periada itu, beserta sumber-sumber
prilaku dan pengetahuan priada-priada itu.
Prinsip-prinsip muhim yang diisyaratkan memahami berbagai subtansi ruh
(soul).”Prinsip itu adalah : 1. segala priada yang fana terdiri atas materi dan
bentuk, yang masing-masing dengan sendirinya bukan satu wujud, meskipun melalui
gabungan keduanya wujud itu maujud. 2. materi utama tidak memiliki eksistensi
aktual, dan hanya merupakn suatu kemampuan untuk menerima bentuk-bentuk. 3.
wujud-wujud sederhana pertama yang merupakan perwujudan materi utama itu
merupakan empat unsur yaitu, api, air, udara, dan bumi, 4. unsur itu masuk
kedalam susunan wujud lain lewat percampuran . Sebab jauh dari percampuran ini
yaitu wujud angkasa. 5. panas alam merupaka sebab utama adanya percampuran itu.
6. benda-benda organik dihasilkan dari individu-individu hidup yang sejenis
dengan benda organaik itu lewat panas alam.
Bentuk materi tidak pernah dapat dipisahkan dari materi, karena bentuk fisik
yang, istilah lain dari bentuk materi bisa maujud hanya dalam materi. Jiwa
terbagi menurut tindakan-tindakannya , menjadi lima bagian : jiwa nuratif,
sensitif, imajinatif, kognitif, dan afektif,dan yang disebut terakhir itu
tampaknya lebih sesuai bila ditempatkan sesudah yang imajinatif dan yang
sensitif.