Monday, 14 April 2014

Resensi Filsafat Islam (4)

AL- KINDI

Nama               : Eva Fauziah
NIM                : 1112051100034
Jurusan            : Jurnalistik 4/
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

1.      MASA HIDUPNYA
 Al-Kindi (185 H/801 M-260 H/873 M) adalah filisof Muslim pertama. Sebagai muslim Arab pertama yang mempelajari ilmu pengetahuan dan filsafat, al-Kindi disebut “Ahli-filsafat Arab”. Kemasyhuran al-Kindi akan kekikirannya sama dengan kemasyhurannya akan pengetahuannya. Keburukan al-Kindi ini digambarkan dalam karikatur al-Jahiz dalam bukunya Kitab al-Bukhala. Betapapun, al-Kindi hidup mewah di sebuah rumah, yang di dalam kebun rumahnya, ia memelihara banyak binatang langka. Ia hidup menjauhi masyarakat, bahkan dari tetangga tetangganya.

2.      Karya- karyanya
Sebagian besar karya al-Kindi (berjumlah ekitar 270 buah) hilang. Ibn al-Nadim dan yang mengikutiya, al-Qifti, mengelompokkan tulisan tulisan al-Kindi, yang kebanyakan berupa risalah risalah pendek, menjadi tujuh belas kelompok
  Astrologi
  Dialektika
  Psikologi
  Politik
  Meteorologi
  Dimensi
  Benda benda pertama
  Spesies tertentu logam dan kimia dan lain lain
  Filsafat
  Logika
  Ilmu hitung
  Globular
  Musik
  Astronomi
  Geometri
  Sperikal
  Medis

Beberapa karya ilmiahnya telah diterjemahkan oleh Gerard dari Cremona ke dalam bahasa Latin, dan karya karya itu sangat mempengaruhi pemikiran Eropa pada abad pertengahan. Cardono menganggap al-Kindi sebagai salah satu dari dua belas pemikiran terbesar.

3.      Filsafatnya
Filsafat hendaknya diterima sebagai bagian dari kebudayaan Islam. Berdasarkan ini, para sejarawan Arab awal menyebutnya “Filosof Arab”. Filsafat merupakan pengetahuan tentang kebenaran. Filosof muslim, sebagaimana filosof Yunani, percaya bahwa kebenaran jauh berada di atas pengalaman ; bahwa kebenaran itu abadi di alam adialami. Batasan filsafat, dalam risalah al-Kindi tentang Filsafat Awal, berbunyi demikian : “Filsafat adalah pengetahuan  tentang hakikat segala sesuatu dalam batas batas kemampuan manusia, karena tujuan para  filosof dalam berteori ialah mencapai kebenaran, dan dalam praktek, ia menyesuaikan dengan kebenaran”.

Pada  akhir risalahnya, ia menyifati Allah dengan istilah “kebenaraan”, yang merupakan tujuan filsafat. “Maka Satu Yang Benar adalah Yang Pertama, Sang Pencipta, Sang Pemberi rizki semua ciptaan-Nya….” Pandangan ini berasal dari filsafat Aristoteles, tetapi ‘Penggerak Tak Tergerakkan’ Aristoteles diganti dengan sang ‘Pencipta’. Perbedaan ini menjadi inti sistem filsafat al-Kindi.

4.      Keselarasan Filsafat dan Agama
Al-Kindi mengarahkan filsafat Muslim kearah kesesuaian antara filsafat dan agama. Filsafat berlandaskan akal pikiran, sedangkan agam berdasarkan wahyu. Logika merupakan metode filsafat; sedangkan iman, yang merupakan kepercayaan kepada hakikat hakikat yang disebutkan dalam Al-Quran sebagaimana diwahyukan Allah kepada Nabi-Nya, merupkan jalan agama.Keselarasan antara filsafat dan agama didasarkan pada tiga alasan :
·         Ilmu agama merupakan bagian dari filsafat
·         Wahyu yang diturunkan kepada Nabi dan kebenaran filsafat saling bersesuaian Menurut ilmu, secara logika, diperintahkan dalam agama.
Dalam risalah “Jumlah karya Aristoteles”, al-Kindi membedakan secara tajam antara agama dan filsafat. Pembicaraannya tentang masalah ini dalam risalah ini, membuktikan bahwa ia membandingkan agama Islam dengan filsafat Aristoteles.

  1. TUHAN

Suatu pengetahuan memadai dan meyakinkan tentang Tuhan merupakan tujuan akhir filsafat.  Dalam tafsiran Theon tentang almagest-nya Ptolomeus, Tuhan digambarkan sebagai bersifat tetap, tunggal, gaib, dan penyebab sejati gerak. Dalam  al-Sina’at al-‘usma, al-Kindi memaparkan sendiri gagasan serupa. Ia berkata : “Karena Allah, Mahaterpuji Dia, adalah penyebab gerak ini, yang abadi (qadim), maka Ia tak dapat dilihat dan tak bergerak, penyebab gerak tanpa menggerakkan Diri-Nya.

No comments:

Post a Comment