AL- KINDI
Nama : Eva Fauziah
NIM : 1112051100034
Jurusan : Jurnalistik 4/b
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
1.
MASA HIDUPNYA
Al-Kindi (185 H/801
M-260 H/873 M) adalah filisof Muslim pertama. Sebagai muslim Arab pertama yang
mempelajari ilmu pengetahuan dan filsafat, al-Kindi disebut “Ahli-filsafat Arab”. Kemasyhuran al-Kindi akan
kekikirannya sama dengan kemasyhurannya
akan
pengetahuannya. Keburukan al-Kindi ini digambarkan dalam karikatur al-Jahiz
dalam bukunya Kitab al-Bukhala. Betapapun, al-Kindi hidup mewah di sebuah
rumah, yang di dalam kebun rumahnya, ia memelihara banyak binatang langka. Ia hidup menjauhi masyarakat,
bahkan dari tetangga tetangganya.
2.
Karya-
karyanya
Sebagian besar karya
al-Kindi (berjumlah ekitar 270 buah) hilang. Ibn al-Nadim dan yang mengikutiya,
al-Qifti, mengelompokkan tulisan tulisan al-Kindi, yang kebanyakan berupa risalah
risalah pendek, menjadi tujuh belas kelompok
Astrologi
Dialektika
Psikologi
Politik
Meteorologi
Dimensi
Benda
benda pertama
Spesies
tertentu
logam dan kimia dan lain lain
Filsafat
Logika
Ilmu
hitung
Globular
Musik
Astronomi
Geometri
Sperikal
Medis
Beberapa karya ilmiahnya telah diterjemahkan oleh
Gerard dari Cremona ke dalam bahasa Latin, dan karya karya itu sangat
mempengaruhi pemikiran Eropa pada abad pertengahan. Cardono menganggap al-Kindi sebagai salah satu dari dua
belas pemikiran terbesar.
3.
Filsafatnya
Filsafat hendaknya diterima sebagai bagian dari kebudayaan Islam. Berdasarkan ini, para sejarawan Arab awal menyebutnya
“Filosof Arab”. Filsafat
merupakan pengetahuan tentang kebenaran. Filosof muslim, sebagaimana filosof Yunani,
percaya bahwa kebenaran jauh berada di atas pengalaman ; bahwa kebenaran itu
abadi
di alam adialami. Batasan filsafat, dalam risalah al-Kindi tentang Filsafat
Awal, berbunyi demikian : “Filsafat
adalah pengetahuan tentang hakikat
segala sesuatu dalam batas batas kemampuan manusia, karena tujuan para filosof dalam berteori ialah mencapai
kebenaran, dan dalam praktek, ia menyesuaikan dengan kebenaran”.
Pada akhir
risalahnya, ia menyifati Allah dengan istilah “kebenaraan”, yang merupakan
tujuan filsafat. “Maka Satu Yang Benar adalah Yang Pertama, Sang Pencipta, Sang
Pemberi rizki semua ciptaan-Nya….” Pandangan ini berasal dari filsafat
Aristoteles, tetapi ‘Penggerak Tak Tergerakkan’ Aristoteles diganti dengan sang
‘Pencipta’. Perbedaan ini menjadi inti sistem filsafat al-Kindi.
4.
Keselarasan Filsafat dan Agama
Al-Kindi mengarahkan filsafat Muslim kearah kesesuaian
antara filsafat dan agama. Filsafat berlandaskan akal pikiran, sedangkan agam
berdasarkan wahyu. Logika merupakan metode filsafat; sedangkan iman, yang
merupakan kepercayaan kepada hakikat hakikat yang disebutkan dalam Al-Quran
sebagaimana diwahyukan Allah kepada Nabi-Nya, merupkan jalan agama.Keselarasan
antara filsafat dan agama didasarkan pada tiga alasan :
·
Ilmu
agama merupakan bagian dari filsafat
·
Wahyu
yang diturunkan kepada Nabi dan kebenaran filsafat saling bersesuaian Menurut
ilmu, secara logika, diperintahkan dalam agama.
Dalam risalah
“Jumlah karya Aristoteles”, al-Kindi membedakan secara tajam antara agama dan
filsafat. Pembicaraannya tentang masalah ini dalam risalah ini, membuktikan
bahwa ia membandingkan agama Islam dengan filsafat Aristoteles.
- TUHAN
Suatu pengetahuan memadai dan meyakinkan tentang Tuhan
merupakan tujuan akhir filsafat. Dalam
tafsiran Theon tentang almagest-nya Ptolomeus, Tuhan digambarkan sebagai
bersifat tetap, tunggal, gaib, dan penyebab sejati gerak. Dalam al-Sina’at al-‘usma, al-Kindi memaparkan
sendiri gagasan serupa. Ia berkata : “Karena Allah, Mahaterpuji Dia, adalah
penyebab gerak ini, yang abadi (qadim), maka Ia tak dapat dilihat dan tak
bergerak, penyebab gerak tanpa menggerakkan Diri-Nya.
No comments:
Post a Comment